Senin, Oktober 08, 2012

Ternyata Akhirat ‘Masih’ Tidak Kekal (8)

~ MENELAAH ISTILAH ‘KEKAL’ DI DALAM AL QUR’AN ~

Sebelum saya mengakhiri pembahasan tentang ketidak-kekalan akhirat di note ke-9 besok, saya ingin membahas sejumlah istilah ‘kekekalan’ di dalam Al Qur’an secara lebih khusus. Karena, di istilah-istilah inilah pertama kali munculnya kerancuan makna yang menyebabkan kontroversi berkepanjangan itu.

Sejumlah kata yang sering digunakan dalam menceritakan kondisi ‘kekekalan’ akhirat itu yang paling banyak adalah baqaa, khalada, dan abadaa. Ketiga kata itu sebenarnya memiliki penekanan makna yang agak berbeda, tetapi semuanya lantas diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘kekal’ terkait dengan pembahasan akhirat. Ada istilah lain yang juga diterjemahkan ‘kekal’ dalam bahasa Indonesia, tetapi tidak kita bahas disini karena keterbatasan halaman.


Dalam kamus bahasa Arab, kita bisa menemukan makna dasar dari istilah-istilah itu.
  1. Baqaa berasal dari kata baqiya, bermakna: tetap, tinggal, bersisa, kondisi pilihan alias kondisi utama. Lantas diterjemahkan sebagai ‘kekal’.
  2. Khalada bermakna: menempel, melekat, berdiam atau menetap, berumur panjang. Dan lantas diterjemahkan sebagai ‘kekal’.
  3. Abadaa bermakna: berdiam, tinggal, selama-lamanya atau selama mungkin. Yang juga diterjemahkan sebagai ‘kekal’.
Untuk memperoleh rasa bahasanya, berikut ini saya kutipkan sejumlah ayat yang menggunakan istilah-istilah tersebut dalam berbagai konteks. Yang pertama, yang berakar kata baqiya. Istilah ini, ternyata bukan hanya digunakan untuk menjelaskan kondisi akhirat, melainkan juga kita dapati dalam konteks riba, keuntungan bisnis, dan manusia pilihan atau manusia utama.

QS. Al Baqarah (2): 278
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (baqiya minarribaa) jika kamu orang-orang yang beriman.

QS. Huud (11): 86
Sisa (keuntungan bisnis) dari Allah (baqiyyatullah) adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu"

QS. Huud (11): 116
Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu ‘orang-orang pilihan’ (ulul baqiyyatin) yang melarang dari (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka. Dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kemewahan yang ada pada mereka. Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.

Selain itu istilah baqaa juga digunakan dalam bentuk perbandingan – abqaa – seperti  dalam ayat-ayat berikut ini, yang lebih tepat diterjemahkan sebagai ‘lebih utama’, karena setara dengan apa yang diperbandingkan. Misalnya, perbandingan kehidupan akhirat yang berkualitas tinggi dengan kehidupan dunia yang berkualitas rendah. Pemaknaan seperti itu lebih pas, karena digandengkan dengan katakhairu yang diterjemahi ‘lebih baik’ dalam kualitas.

QS. Thaaha (20): 131
Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik (khairu) dan lebih utama (abqaa).

QS. Al Qashash (28): 60
Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik (khairu) dan lebih utama (abqaa). Maka apakah kamu tidak memahaminya?

QS. Asy Syuura (42): 36
Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia. Dan yang ada di sisi Allah lebih baik (khairu) dan lebih utama (abqaa) bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal.

QS. Al A’laa (87): 16-17
Tetapi kalian memilih kehidupan duniawi. Padahal kehidupan akhirat adalah lebih baik (khairu) danlebih utama - untuk dipilih (abqaa).

Jadi, penggunaan kata abqaa – terkait dengan akhirat – pada ayat di atas, sebenarnya bukan menggambarkan ‘tempat’ sebagaimana selama ini dipahami, melainkan menggambarkan kualitas ‘kehidupan’.

Yang kedua, istilah khalada. Kata ini paling banyak digunakan di dalam Al Qur’an untuk menjelaskan kondisi yang terkait dengan akhirat. Tetapi, lagi-lagi bukan untuk menjelaskan ‘tempat’, melainkan untuk menjelaskan ‘orang’. Dari 72 ayat yang saya cermati, semuanya menceritakan kondisi orang-orang yang masuk ke surga atau neraka. Tidak ada yang bercerita tentang surga atau neraka sebagai tempat. Sehingga, terjemahan yang lebih cocok untuk kata khalada itu bukanlah ‘kekal’, melainkan‘menetap’.

Penggunaannya adalah sebagai berikut: 1 kali dalam bentuk khaalidu, yakni dalam QS. 47: 15 ~ huwa khaalidu finnaar – mereka menetap di neraka. Ayatnya berikut ini.

QS. Muhammad (47): 15
Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa, (bagaikan taman) yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring. Dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka. (Apakah penghuni surga itu) sama dengan orang yangmenetap di dalam jahannam (huwa khaalidu finnaar) dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?

Kemudian 3 kali dalam bentuk khaalidan, yakni terdapat pada QS. 4: 14/ QS. 4: 93/ QS. 9: 63/ ~khaalidan fiiha – menetap di dalamnya. Salah satu diantaranya terdapat pada ayat berikut ini.

QS. An Nisaa’ (4): 14
Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka. Ia menetap di dalamnya (khaalidan fiiha); dan baginya azab yang menghinakan.

Lainnya lagi, dalam bentuk khaalidiina, ada 44 ayat terdapat pada QS. 2: 162/ QS. 3: 15, 88, 136, 198/ QS. 4: 13, 57, 122, 169/ QS. 5: 85, 119/ QS. 6: 128/ QS. 9: 22, 68, 72, 89, 100/ QS. 11: 107, 108/ QS. 14: 23/ QS. 16: 29/ QS. 18: 108/ QS. 20: 76, 101/ QS. 21: 8/ QS. 25: 16, 76/ QS. 29: 58/ QS. 31: 9/ QS. 33: 65/ QS. 39: 72, 73/ QS. 40: 76/ QS. 46: 14/ QS. 48: 5/ QS. 57: 12/ 58: 22/ QS. 59. 17/ QS. 64: 9,10/ QS. 65: 11/ QS. 72: 23/ QS. 98: 6,8. ~ khaalidiina fiiha – menetap di dalamnya. Diantaranya terdapat pada ayat berikut ini.

QS. Al Baqarah (2): 162
Mereka menetap di dalamnya (khaalidiina fiiha); tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.

QS. Ali Imran (3): 15
Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka menetap didalamnya (khaalidiina fiiha). Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

Selebihnya, dalam bentuk khaaliduun, ada 24 kali terdapat pada ayat-ayat: QS. 2: 25, 39, 81, 82, 217, 257, 275/ QS. 3: 107, 116/ QS. 5: 80/ QS. 7: 36, 42/ QS. 9: 17/ QS. 10: 26, 27/ QS. 11: 23/ QS. 13: 5/ QS. 21: 99, 102/ QS. 23: 11, 103/ QS. 43: 71, 74/ QS. 58: 17 ~  hum fiiha khaaliduun – mereka di dalamnya menetap. Berikut ini saya ambilkan contoh-contoh ayatnya.

QS. Al Baqarah (20): 25
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka menetap di dalamnya (hum fiiha khaaliduun).

QS. A Baqarah (2): 39
Adapun orang-orang yang ingkar dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka;mereka menetap di dalamnya (hum fiiha khaaliduun).

QS. Al Baqarah (2): 257
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kesesatan) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang ingkar, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kesesatan). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka menetap di dalamnya (hum fiiha khaaliduun).

Yang ketiga, adalah kata abadaa. Istilah ini bermakna selama-lamanya atau selama mungkin. Di dalam Al Qur’an digunakan sebanyak 28 kali, dan sebagian besarnya justru digunakan untuk menjelaskan hal-hal selain akhirat. Misalnya, ayat-ayat berikut ini.

QS. Al Baqarah (2): 95
Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya (abadaa), karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.

QS. Al Kahfi (18): 35
Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya (abadaa).

QS. Al Maa-idah (5): 24
Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasuki (kota itu) selama-lamanya (abadaa)selagi mereka (tentara musuh) ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami akan duduk menanti disini saja."

Kata abadaa adalah istilah yang mengandung nuansa ‘belum final’, dan bergantung kepada sesuatu yang lain. Hal itu ditunjukkan dalam QS. 5: 24 di atas, saat Bani Israil mau pulang kampung ke Palestina. Mereka tidak mau masuk ‘selama-lamanya’ selagi ada musuh di dalamnya. Dan menyuruh Nabi Musa berperang sendirian bersama Tuhannya.

Dalam kaitannya dengan akhirat, kata abadaa digunakan untuk menegaskan kata khaalidiina sehingga memiliki makna ‘menetap selama-lamanya’ di dalam surga atau neraka ~ khaalidiina fiiha abadaa. Tetapi, sebagaimana contoh di atas, kata abadaa bukan menunjuk ‘kekekalan’ yang tanpa batas, melainkan masih bergantung kepada kondisi yang menyertainya. Yakni, selama ‘waktu’ atau ‘tempat’nya masih ada, atau penyebab lain yang membatasinya.

Semoga penjelasan di atas bisa sedikit mengurangi ‘benang kusut’ tentang istilah ‘kekal’ di dalam Al Qur’an. Sehingga kesimpulan kita menjadi lebih proporsional... :)

Wallahu a’lam bishshawab

bersambung insyallah ... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar