Indonesia memiliki setumpuk hutang luar negeri, mayoritas adalah dalam US dolar, sebagian lagi adalah dalam Yen.
Ketika
mendapatkan mata uang ini, pemerintah mengkonversi kembali ke rupiah
dan kemudian menggunakan uang tersebut untuk membiayai proyek yang akan
didanai oleh hutang tersebut.
Katakanlah pemerintah meminjam 50
juta USD untuk membangun sekolah, memperbaiki jalan, dan memperbaiki
sanitasi suatu daerah. Pertanyaan bagi kita adalah:
"Bagaimana uang ini nantinya akan dikembalikan?"
Kita
tidak bisa membayar hutang dolar dengan rupiah, tidak bisa juga
membayar Yen dengan rupiah. Dolar harus dibayar dengan dolar, Yen harus
dibayar dengan Yen. Tentu saja, + bunga pinjaman yang juga dalam mata
uang dolar atau Yen.
Sekolah, jalan raya, dan infrastruktur
tersebut tidak bisa serta merta menghasilkan dolar dan yen! Bunga
pinjaman dalam mata uang dolar atau yen ini harus dikembalikan, dan
satu-satunya cara mengembalikan adalah kalau kita menjual sumber alam
atau produk manufaktur buatan Indonesia kepada negara-negara pemberi
pinjaman tersebut.
Bila pinjaman terus menerus diberikan.. suatu ketika bunga-berbunga (compounding interest)
dari pinjaman tersebut akan memaksa pemerintah menjual besar-besaran
sumber daya alam kita ke negara pemberi pinjaman tersebut... Pajak yang
harus dibayar oleh rakyat juga semakin besar, hanya untuk melunasi
hutang dan bunga hutangnya.
Siapa yang sebenarnya memberikan hak
kepada pemerintah untuk berhutang??? Sepertinya pemerintah tidak pernah
meminta izin dari rakyat ketika meminjam uang ke luar negeri, padahal
konsekuensi tindakan mereka berdampak secara langsung kepada kehidupan
rakyat nya.
Ingat, pemerintah tidak punya uang! Semua uang pemerintah datang dari rakyatnya!
Sumber : http://pohonbodhi.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label Konspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konspirasi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, Desember 21, 2013
Kamis, Agustus 16, 2012
Sultan Abdul Hamid II, Pemimpin Khilafah Islam Terakhir (5-habis)
Pada 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap Sultan Abdul Hamid II. Kedatangan Hertzl kali ini untuk menyogok sang penguasa kekhalifahan Islam tersebut.Di antara sogokan yang disodorkan Hertzl adalah uang sebesar 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan; membayar semua utang pemerintah Usmaniyyah yang mencapai 33 juta poundsterling; membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta frank; memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga; dan membangun Universitas Usmaniyyah di Palestina.
Namun, kesemuanya ditolak Sultan. Bahkan, Sultan tidak mau menemui Hertzl, diwakilkan kepada Tahsin Basya, perdana menterinya, sambil mengirim pesan, “Nasihati Mr Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam.”
Selasa, Agustus 14, 2012
Sultan Abdul Hamid II, Pemimpin Khilafah Islam Terakhir (3)
Sementara itu, orang-orang Bulgaria berusaha memengaruhi orang-orang Islam yang ada di Bulgaria, Serbia, dan pegunungan Hitam untuk mengadakan pemberontakann terhadap kekhalifahan Turki Usmani.
Untuk mempertahankan kedaulatan wilayah Kesultanan Turki Usmani, Sultan Abdul Hamid II melakukan berbagai upaya untuk menyatukan umat Islam dan membantu mereka agar dapat melawan para penjajah yang menjadi penguasa di negeri mereka sendiri.
Senin, Agustus 13, 2012
Sultan Abdul Hamid II, Pemimpin Khilafah Islam Terakhir (2)
Selama berabad-abad, kerajaan Islam tersebut berhasil menancapkan pengaruhnya di Eropa Timur, Balkan, dan Mediterania. Namun, pada akhir abad ke-19 M, pengaruh itu berangsur pudar.
Menjelang masa-masa kejatuhan kekhilafahan Islam terakhir ini, muncul pemimpin Kesultanan Turki Usmani yakni Sultan Abdul Hamid II.
Dengan segala daya yang ada, ia mencoba untuk terus mempertahankan tegaknya ajaran Islam di wilayah kekuasaannya dari berbagai macam bahaya yang mengancam, khususnya kekuatan Barat dan Yahudi.
Minggu, Agustus 12, 2012
Sultan Abdul Hamid II, Pemimpin Khilafah Islam Terakhir (1)
Selama berabad-abad, kerajaan Islam tersebut berhasil menancapkan pengaruhnya di Eropa Timur, Balkan, dan Mediterania. Namun, pada akhir abad ke-19 M, pengaruh itu berangsur pudar.
Menjelang masa-masa kejatuhan kekhilafahan Islam terakhir ini, muncul pemimpin Kesultanan Turki Usmani yakni Sultan Abdul Hamid II.
Dengan segala daya yang ada, ia mencoba untuk terus mempertahankan tegaknya ajaran Islam di wilayah kekuasaannya dari berbagai macam bahaya yang mengancam, khususnya kekuatan Barat dan Yahudi.
Kamis, Maret 15, 2012
Summer Soltice, Ritual Penyembahan Dewa Matahari yang Banyak Dirayakan Saat ini
Oleh: Tio Alexander
Senin, Maret 12, 2012
Elit Kolonial Menguasai China Untuk Illuminati
(Colonial Elite Rules China for the Illuminati)
Oleh: St. John Bartholomew
David Rockefeller dan Zhou Enlai, 1973
Rakyat China akan memberontak melawan dominasi asing yang terang-terangan, namun mereka akan menerima tawaran kedudukan dalam sistem Tata Dunia Baru (NWO) jika mereka percaya bahwa mereka pemegang kendalinya.
Beijing - Elit Cina merupakan gabungan antara kepemimpinan Komunis, Taipan Hong Kong, dan organisasi kriminal Triad. Kekuasaan ketiga faksi tersebut berasal dari kolaborasi Illuminati.
Cina nampaknya otonom karena Illuminati membangun negara tersebut secara internal, mendanai partai politik 'revolusioner' yang meneriakan slogan-slogan nasionalis. Alasannya mengapa?, karena orang-orang Cina akan memberontak melawan dominasi asing yang secara terang-terangan, akan tetapi mereka menerima tawaran didudukan dalam Tata Dunia Baru (NWO) jika mereka yakin bahwa merekalah yang memegang kendali.
Jumat, Oktober 28, 2011
Soekarno Ganyang Malaysia atau Ganyang Freemason ?
Atas
alasan itulah, pada tahun 1962 hingga 1966, Presiden Soekarno telah
melancarkan perang terhadap Malaysia yang jika kita teliti
sedalam-dalamnya, konfrontasi ini sebenarnya adalah ditujukan kepada
Inggeris dan tali barutnya di Malaya pada ketika itu. Mungkin anda
pernah membaca sejarah konfrontasi kedua-dua negara bangsa anak Melayu
ini di dalam buku teks atau wikipedia. Namun tahukah anda bahawa,
pemerintah Indonesia sebenarnya pada ketika itu, benar-benar mahu
membantu orang Melayu seagama mereka di Malaya. Mereka mahu membebaskan 'semenanjung emas' ini daripada British.
Langganan:
Postingan (Atom)