Oleh Abdul Mutaqin
Lama-lama, orang kebanyakan tidak lagi terkejut, tidak lagi terperangah, tidak lagi heran, dan masya Allah, tidak lagi malu. Na’uzdu billah, bahkan hampir dianggap biasa saja. Bagi yang beriman, meskipun imannya hanya sebesar biji sawi, tetap saja terkejut, terperangah, heran dan tetap saja malu kepada Allah dan semua makhluk. Kenapa malu? Karena masih ada iman tentunya. Mereka tetap menganggap penomena itu sebagai perkara yang luar biasa, karena takut akan azab Allah. ......
Lama-lama, orang kebanyakan tidak lagi terkejut, tidak lagi terperangah, tidak lagi heran, dan masya Allah, tidak lagi malu. Na’uzdu billah, bahkan hampir dianggap biasa saja. Bagi yang beriman, meskipun imannya hanya sebesar biji sawi, tetap saja terkejut, terperangah, heran dan tetap saja malu kepada Allah dan semua makhluk. Kenapa malu? Karena masih ada iman tentunya. Mereka tetap menganggap penomena itu sebagai perkara yang luar biasa, karena takut akan azab Allah. ......

