blogwongjowo.blogspot.com

this is me what it is. Wandering seeking knowledge to provide the best for everybody

Udah lama banget tidak pake account email ini. Account email yang dikasi cuma-cuama oleh pihak universitas, tapi sayang kebanyakan dari temen-temen sendiri, tidak banyak yang memakai email ini. Padahal email ini sangat bermanfaat sekali untuk menunjang aktivitas akademik. Oleh karena itu, saya akan mempostingkan account email universitas saya (Universitas Islam Indonesia).
Langkah-Langkah :

  1. Dulu sewaktu Anda memiliki email ini, pastinya Anda pernah diberikan surat informasi ID Anda tentang email ini. Silahkan cek kembali Username (email-UII) dan Password (untuk password pertama kali biasanya, dikasi 4 digit angka).
  2. Nah setelah itu coba masukkan ID username dan password Anda ke http://www.mail.uii.ac.id, Akan muncul layar seperti berikut. Disini Anda bisa mengirim pesan/mail disertai attachment yang mirip halnya Yahoo, Gmail, Plaza dan sebagainya. Serta pengaturan untuk pengubahan password.

Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Sufyan al Jawi - Numismatik Indonesia
Mempercayai sistem uang kertas, seperti berjudi melawan jack-pot di Las Vegas, kadang kala untung, tapi banyak buntungnya.

"Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja?" (QS. Al Qiyamah : 36 )

Mempercayai sistem uang kertas, seperti berjudi melawan jack-pot di Las Vegas, kadang kala untung, tapi banyak buntungnya. Bagaimana tidak? Melalui uang kertas, kaum Yahudi memperdaya miliaran manusia dari generasi ke generasi, mengikatnya dengan sihir mata uang nasional - multinasional. Harganya yang hampa, melalui bank seakan-akan bernilai, sebagaimana tercetak pada lembaran banknote bergambar. Tetapi pembayaran yang sesungguhnya harus ditanggung oleh si penerima uang kertas itu sendiri, yaitu dengan memproduksi barang maupun jasa. Artinya, bank untuk menumpuk kekayaan, menipu lewat angka yang tercetak di uang kertas, sementara manusia yang harus memikulnya.

Di Eropa, uang kertas pertama yang menimbulkan malapetaka adalah John Law notes terbitan Banque Royale Perancis, saat itu Louis XV merubah Banque Generale pada 14 Desember 1718. Bank ini adalah hasil lobi penjudi asal Scotlandia - John Law yang kemudian dianugerahi gelar duc d'Arkansas, gelar untuk pelopor Uang Kertas Perancis guna mengisi kas kerajaan yang nyaris bangkrut, dan membiayai kolonialisasi di benua baru Amerika. Setelah mengganti nama bank menjadi Banque Royale, Law turut andil mendirikan dua perusahaan kolonial Compagnie des Indes dan Compagnie d'Occident (Mississippi Company).

Pada tahun pertama, Law Notes memberikan bunga bagi pemegangnya, untuk merayu para pemilik koin livre perak dan emas agar mau menukarnya dengan uang kertas bank. Para bangsawan dan saudagar bergegas memborong saham Mississippi Company, berharap dari cerahnya masa depan perusahaan yang akan mendapatkan emas berlimpah. Untuk mengelabui publik, direktur mendandani para pengangguran laiknya buruh pertambangan yang akan mengeruk kekayaan dari benua baru. Mereka membuat pesta pora dan kampanye, disertai parade, untuk membiayainya uang kertas terus dicetak. Akibatnya Law Notes melebihi 2 kali jumlah koin yang beredar di seluruh Perancis, di tahun 1720. Akhirnya terjadilah inflasi yang membuat rakyat marah karena melimpahnya uang kertas.

Ketika kebohongan dari 'keajaiban uang kertas' sudah ketahuan belangnya, para pemegang Law Notes menyerbu Banque Royale, menuntut penukaran dengan koin. Mereka berdesak-desakan di Palais Royale sambil menggotongi mayat-mayat rekan mereka yang mati lemas kehabisan napas, berteriak-teriak menuntut kematian John Law. Di saat bersamaan, para investor panik berebut menyita aset-aset sang duc yang tertinggal, karena Law kabur ke Inggris lalu ke Venesia. Mississippi Company akhirnya ambruk beserta Banque Royale, dua tahun sejak pendiriannya, menyisahkan jutaan lembar uang kertas yang berserakan di penjuru Paris. Tak lama berselang, John Law meninggal dunia di pengasingannya di Venesia pada 1729.

Tak jera atas tragedi yang menimpah Law Notes, Louis XVI mengulangi kesalahan yang sama dengan mencetak uang kertas Assignat, sejak tanggal 24 Maret 1776. Parahnya, saat itu otoritas penerbit Assignat bukan cuma monopoli Kaisar, tetapi otoritas lain seperti gereja, bangsawan, bank dan militer ikut-ikutan mencetak Assignat-nya masing-masing sehingga timbul kekacauan ekonomi. Dalam situasi ini, Napoleon Bonaparte mendulang Revolusi Perancis (1789-1794), membentuk Pemerintahan Republic, kemudian menjadi Pemerintahan Directur (1794-1799), lalu berubah menjadi Pemerintahan Consulate (1799-1803). Akhirnya mengangkat diri sebagai Kaisar pada tahun 1804 - 1814.

Pada awal revolusi, Pemerintah Republic mengedarkan 40 juta Livre dengan mendevaluasi Assignat. Livre akhirnya didevaluasi menjadi 1/10 dari nilainya semula pada 1795. Tapi rupanya Napoleon harus memberangus uang kertasnya lagi, yaitu ketika inflasi terus membengkak pada 1 Januari 1796, dan meledak menjadi kemarahan Publik di Place Vendome pada 18 Februari 1796. Tak mau dituding oleh rakyatnya, para pejabat republik mengkambing hitamkan kesalahan pada mesin-mesin cetak dan bahan kertas yang dipakai untuk membuat uang kertas Assignat Republic, yang dimusnahkan bersama api kebencian.

Di Amerika, uang kertas sudah membawa petaka sejak berdirinya negara itu. Setelah perang di Lexington (1775), konggres menerbitkan uang kertas senilai $ 13 juta berupa Treasury Notes - namun populer di sebut Continental Notes. Dolar Continental awalnya setara dengan 1 dolar perak Spanyol - Mexico, namun ia terus merosot nilainya. Ketika tahun 1780, Continental anjlok menjadi $ 40 kertas untuk $ 1 perak, karena jumlah Continental Notes telah mencapai $ 241 juta

Uang KertasSetelah merdeka dari Inggris, $ 10 Continental hanya dihargai 1 sen tembaga. Ini berarti $ 1000 Continental cuma seharga $ 1 perak, atau inflasi 100.000 % hanya dalam tempo 5 tahun (1776-1781). Dan sialnya Konggres menolak penukaran Continental Notes terhadap koin perak, sehingga para patriot-veteran kesal kepada kebijakan ini, mereka marah dan berbuat onar. Bagaimana tidak kesal? Gaji prajurit reguler rata-rata hanya $ 5 Continental perbulan! Hingga akhirnya muncul klise populer di Amerika : Tak senilai satu Continental, artinya tak berharga .

Ide dolar kertas berasal dari propaganda Benjamin Franklin, tahun 1730, ia mencetak beberapa jenis uang kertas koloni diusia belia, 23 tahun. Ia terinspirasi oleh uang kertas koloni Massachussetts Bay (1690). Karena memperjuangkan uang kertas, bahkan sampai menghadap ke Parlemen Inggris di London, ia di gelari Bapak Uang Kertas Amerika, dan potretnya terpampang di lembaran 100 dolar.

Sebelum menjadi mata uang dunia, dolar harus melewati masa kelamnya selama 160 tahun. Antara lain : peristiwa Wild Cats (pasca Panic 1857), yaitu ketika hukum Liberal memberikan kebebasan kepada perbankan dan individu untuk membuat uang kertas (Lax banking Law). Pada era ini, sirkulasi dolar kertas dibebaskan sesuai kemampuan para penerbitnya. Sehingga tiap-tiap bank memiliki kurs dolar yang saling berbeda. Akibatnya, peredaran uang kertas, swasta maupun negara bagian menjadi melimpah tak terbendung, dan rakyat bingung memilih dolar.

Wild Cats (kucing liar) adalah julukan untuk bankir yang mencetak uang kertas lalu bangkrut, menyisakan uang-uang dolar kertas tak bernilai. Mereka dituding oleh nasabahnya menggelapkan deposit dolar emas dan perak, menukar isi brangkas koin dengan tumpukan paku atau tapal kuda. Sehingga profesi bankir tak ubahnya bandit, dimata rakyat Amerika saat itu. Kondisi ini berakhir pada tahun 1863, saat pemerintah Federal mengambil alih penerbitan dolar kertas.

Lalu peristiwa duel dua mata uang dolar kertas, antara dolar Union Green Back melawan dolar Confederate Dixie (1861-1865), era perang sipil. Begitu serdadu Union -- Yankee menang, tak ayal Dixie sudah tak berharga lagi. Akibatnya ribuan orang kaya di selatan AS mendadak miskin, karena tak bisa membelanjakan dolar dixie mereka, worthless. Daerah yang dulunya subur berubah menjadi tandus, dipenuhi oleh ladang-ladang tak terurus, karena petani yang dulunya direkrut menjadi serdadu Confederation, tak memiliki uang untuk membiayai lahan mereka, sebab gaji mereka yang berupa dolar dixie kini hanya menjadi penghias dompet!

Kemudian peristiwa Depresi Dolar 1928-1935, yaitu inflasi tak terkendali, menyebabkan kebangkrutan massal, PHK dan antrian panjang untuk mendapatkan sembako. Untuk menstabilkan keadaan, pemerintah Federal merazia emas dan perak dari tangan rakyatnya dan memasukan 2 jenis logam ini ke dalam daftar barang terlarang seperti narkotika.

Tragedi hiperinflasi yang dialami Jerman (1922-1923) merupakan klimaks dari kebobrokan sistem uang kertas. Jutaan rakyat Jerman stress karena terlalu banyak memiliki uang kertas, sehingga angka bunuh diri melonjak drastis! Loh, bukankah kalau banyak uang manusia seharusnya tambah senang? Coba renungkan syair ini: "Untuk membunuh orang tak butuh pisau (senjata) cukup secarik kertas dimana tertulis angka (uang)." Albert Pick, Numismatic USA.

Di Berlin, pada akhir tahun 1922, harga sembako tiba-tiba membumbung tinggi sampai 1500 kali lipat, lalu meroket melampaui satu miliar kali lipat dari harga sebelumnya. Cuma dalam waktu singkat, harga sekerat roti dari 2 mark melesat menjadi 2.400.000.000.000 mark (baca : 2,4 triliun mark) dalam setahun!

Rentenir menetapkan bunga 30 - 40 % per hari, bahkan pada puncak inflasi 200 % per hari atau 10% per jam. Maka uang yang dipinjam pada pukul 06.00 pagi sebesar 100 miliar mark, harus dibayar kembali sebesar 220 miliar mark pada jam 06.00 sore, pada hari itu juga! Apabila pinjaman 30 hari lamanya, maka utang sebesar 100 miliar mark harus dibayar sebesar 6.000.000.000.000 mark (baca : 6 triliun mark ) hitungnya sebagai berikut : Utang 100 miliar x bunga 200 % x 30 hari.

Hitungan di atas adalah hitungan potong kompas yang dilakukan rentenir tingkat tetangga (RT). Dalam kondisi demikian, harga-harga barang dan jasa naik dalam hitungan hari, misalnya: hari Senin harga telur 10 miliar mark/butir, maka hari selasa harga telur 20 miliar mark/butir, begitu seterusnya. Seluruh aktivitas kehidupan di paksa bekerja lebih cepat lagi untuk mengimbangi laju inflasi.

Petani harus memanen lebih cepat : gandum, sayur dan buah yang wajib dikirim ke kota secepat mungkin! Begitu pula peternak sapi, harus memerah sapi mereka di pagi buta, karena susu-susu harus segera dikumpulkan oleh suplier sebelum pekerja pabrik dan pegawai lainnya berangkat dinas. Pedagang berpacu dengan waktu, antara menerima, menghitung dan menyetorkan uang ke bank. Setelah urusan hitung-hitungan selesai, maka pemasok sembako segera mengisi gudang toko mereka untuk kemudian dijual tanpa harus menata ulang di etalase.

Pekerja menghendaki upah harian yang dibayar tunai, dan segera menghabiskan upah mereka untuk membeli sembako secepat mungkin. Begitu mereka terlambat tiba di toko, mereka mendapati gepokan uang gajinya sudah tak berdaya untuk membeli sesuatu, dan beberapa saat kemudian uang kertas segera berubah fungsi menjadi kertas bahan bakar tungku, dapur, atau berakhir sebagai wallpaper.
see more : http://www.wakalanusantara.com/detilurl/Mati.Di.Tengah.Tumpukan.Uang.Kertas/163

Download the new Training and Certification Guide to keep up–to–date on all the latest course offerings from Sun and access an exclusive training offer!

YOUR NEW SUN TRAINING GUIDE IS ONLINE!
Download the new Training and Certification Guide to keep up–to–date on all the latest Solaris course offerings from Sun and access an exclusive training offer!
The new training guide provides you with a range of training options including classroom, web–based and CD–ROM, plus learning paths to help you choose the training that is right for you.
New and Updated Solaris Courses Now Available
Download our new guide to check out our new and updated Solaris courses and get a free web–based course with qualifying purchase.
Download the new Training and Certification Guide
Suggested qualifying courses:
» System Administration for the Solaris 10 Operating System Part 2 (SA–202–S10)
» Solaris 10 Features for Experienced Solaris System Administrators (SA–225–S10)
» Solaris Operating System Administration for Experienced UNIX Administrators (STS–276–S10)
Download Your Training Guide!
Thank you,
Sun Microsystems
P.S. Don't forget that if you purchase a qualifying classroom course by Dec. 31, 2009, you'll get a web–based course absolutely free! Download the Guide Now!

Sun Microsystems, Inc. respects your privacy. You are receiving this email at rizaladitya20@yahoo.co.id because of your registration activities related to Solaris 10.
Privacy Policy | Trademarks | Update My Profile | Unsubscribe
Please do not reply to this email. Instead, contact the editor.
Sun Microsystems, Inc., 18 Network Circle, M/S: UMPK18–124, Attn: Global eMarketing, Menlo Park, CA 94025 USA
© 2009 Sun Microsystems, Inc. All rights reserved.

View this email online.

Sun Microsystems
» Get the White Paper Now!

Limited IT Budget?
Open Source Virtualization Can Save You Money

Dear Everyone,

With many business computer systems only 5% utilized, companies are using open source virtualization to boost utilization rates, cut acquisition costs and reduce operating expenses.

Get our new White Paper - Open Virtualization: More Innovation without Vendor 'Lock-In' - and read about:
  • Server, client and operating system virtualization
  • Why choose open source for virtualization
  • Evaluating open source virtualization options
  • User case study
  • Sun open source virtualization solutions
Get the White Paper Now! Get the White Paper Now!

Thank you,
Sun Microsystems

P.S. Also, check out our whitepaper on Open Source & Cloud Computing.




Get the White Paper Now! Get the White Paper Now!



Sun Microsystems, Inc. respects your privacy. You are receiving this email at rizaladitya20@yahoo.co.id because of your registration activity related to NetBeans.

Privacy Policy | Trademarks | Update My Profile | Unsubscribe

Please do not reply to this email. Instead, contact the editor.

Sun Microsystems, Inc., 18 Network Circle, M/S: UMPK18-124, Attn: Global eMarketing, Menlo Park, CA 94025 USA

© 2009 Sun Microsystems, Inc. All rights reserved.

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS).Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).

Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusahaan dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. (watch the US crime on WWII )

Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World to Change.

Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.

“Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita,” ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta, Kamis (21/2).

Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi.

Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO.

“Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya,” ujarnya.

Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000 eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku.

“Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar,” katanya.

Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.

“Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan.

Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush,” ujar menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran.

“Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual,” katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran.

Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.

Mengubah Kebijakan

Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia. Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun.

Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005.

Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.

“Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi,” tulis The Economist.

The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam.

Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.

Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen.

Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?

Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus.

Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung.

Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.

Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.

Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC.

Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS.

Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui.

Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?

Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.

Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya.

Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.

Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara.

Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.

Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan. (tribun-timur)

Blog Archive

On Chat


ShoutMix chat widget

Blog Post

Melok-melok ae

Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner